Kamis, 11 Desember 2014

Kesaksian akhir abad


Kesaksian akhir abad

Ratap tangis,menerpa pintu kalbukku..
bau anyir darah,mengganggu tidur malam ku..
oh..tikar tafsarku..
oh..bau sungai tohor yg kotor..
bagaimana aku akan bisa membaca keadaan ini..?
diatas atap kesepian nalar pikiran,yg digalaukan oleh lampu-lampu kota
yg bertengkar dgn malam,aku menyerukan nama mu wahai para leluhur nusantara..
oh..sang jaya..leluhur dari kebudayaan tanah..
oh..punawarman..leluhur dari kebudayaan air..
kedua wangsamu telah mampu mempersekutukan budaya tanah dan air..
oh..resikuturan..
oh..resineralte..
empu-empu tampan yg penuh kedamaian,telah kamu ajarkan tatanan hidup yg aneka dan sejahtera..
yg dijaga oleh dewan hukum adat..
oh..bagaiman aku bisa mengerti bahasa bising dari bangsaku kini..
oh..kajaolalido bintang cemerlang tanah ubi..
negarawan yg pintar dan bijaksana
telah kamu ajarkan aturan permainan
didalam benturan-benturan keinginan yg berbagai ragam di dalam kehidupan..
ade,wicara,rapang,dan wari..
oh..lihatlah..wajah-wajah berdarah dan rahim yg diperkosa,muncul dari puing-puing tatanan hidup yg porak-poranda..
kejahataan kasat mata,tertawa tanpa pengadilan.
kekuasaan kekerasan berak dan berdahak diatas bendera kebangsaan..
oh..anak cucuku di zaman sibernetik..
bagaimana akan kalian baca prasasti dari zaman kami..
apakah kami akan mampu menjadi ilham kesimpulan..?
ataukah kami justru menjadi sumber masalah di dalam kehidupan..??
dengan puisi ini aku bersaksi..
bahwa rakyat indonesia belum merdeka
rakyat yg tanpa hak hukum,bukanlah rakyat merdeka..
hak hukum yg tidak dilindungi oleh lembaga pengadilan yg mandiri,adalah hukum yg di tulis diatas air..
bagaimana rakyat bisa merdeka..
bila polisi menjadi aparat pemerintah dan tidak menjadi aparat hukum,yg melindungi hak warga negara..
bagaimana rakyat bisa merdeka..??
bila birokrasi negara tidak menjadi aparat rakyat,melainkan menjadi aparat pemerintah yg berkuasa..
bagaiman rakyat bisa merdeka ??
bila hak pilih mereka di pasung,tidak boleh memilih secara langsung wakil-wakil mereka di dewan perwakilan..
dan juga tidak boleh memilih secara langsung camat mereka,bupati,walikota,gubernur dan presiden mereka..
dan partai-partai politik,menganggap rakyat hanya abdi partai..
yg dinamakan masa politik partai,kawulah partai atau hamba partai..
bagaiman rakyat bisa merdeka ??
bila pemerintah melecehkan perdagangan antar daerah..?
dan mengembangkan merkantilisme dan des sehingga rela menekan kesejahteraan buruh,petani,nelayan,guru dan serdadu berpangkat rendah..
bagaimana rakyat bisa merdeka..?
bila provinsi-provinsi sekedar menjadi tanah jajahan pemerintah pusat,tidak boleh mengatur ekonominya sendiri,tatanan hidupnya sendiri,
dan juga keamanannya sendiri..
ayam,serigala,macan ataupun gajah semuanya peka pada wilahnya..
setiap org juga ingin berdaulat didalam rumah tangganya,setiap penduduk ingin berdaulat didalam kampungnya,dan kehidupan berbangsa tidak perlu merusak daulat kedaerahan..
hasrat berbangsa adalah naluri rakyat,untuk menjalin ikatan daya cipta antar suku,yg penuh keanekaan kehidupan dan memaklumkan wilayah pergaulan yg lebih luas untuk merdeka bersama..
tetapi lihatlah selubung kabut saat ini..
penjajahan tatanan uang,penjajahan modal,penjajahan kekerasan senjata,dan penjajahan oleh partai-partai politik,masih merajalela didalam negara..
dengan puisi ini aku bersaksi..
bahwa sampai saat puisi ini aku tandatangani,para elit politik yg berkedudukan,ataupun yg masih dijalan..
tidak pernah memperjuangkan sarana-sarana kemerdekaan rakyat..
mereka hanya rusuh dan gaduh memperjuangkan kedaulatan golongan dan partainya sendiri..
mereka hanya bergulat untuk posisi sendiri..
mereka tidak peduli pada posisi rakyat..
tidak peduli pada posisi hukum,posisi polisi,ataupun posisi birokrasi..
dengan picik mereka akan mendaur ulang malapetaka bangsa dan negara yg telah terjadi..
hhmm......INDONESIA......
aahhh.......INDONESIA......
negara yg kehilangan makna..
rakyat sudah dirusak azas tatanan hidupnya..
berarti sudah dirusak dasar peradabannya,dan akibatnya,dirusak pula kemanusiaannya..
maka sekarang negara tinggal menjadi peta,itupun peta yg lusuh dan hampir sobek pula..
pendangkalan kehidupan bangsa telah terjadi..
tata nilai rancu..
dusta,pencurian,penjarahan dan kekerasan halal..
manusia sekedar semak belukar yg gampang dikacau dan dibakar..
paket-paket mupakilan yg murah dijajakan..
penalaran amarah yg salah mendorong rakyat terpecah belah..
negara tidak mungkin kembali diutuhkan,tanpa rakyatnya dimanusiakan..
dan manusia tak mungkin menjadi manusia,tanpa dihidupkan hati nuraninya..
hati nurani adalah hakim adil untuk diri kita sendiri..
hati nurani adalah sendi dari kesadaran akan kemerdekaan pribadi..
dengan puisi ini aku bersaksi..
bahwa hati nurani itu meski dibakar tidak bisa menjadi abu..
hati nurani senantiasa bisa bersemi,meski sudah ditebang putus dibatang..
begitulah fitrah manusia ciptaan TUHAN yg maha ESA...



Ws.Rendra